Raja dari Segala Raja
Raja dari Segala Raja - Di sebuah desa pedalaman, aku di lahirkan, sebagai bayi biasa, sebagaimana manusia lainnya di lahirkan, juga tak ada yang aneh kelahiranku, semua biasa saja, wajar dan normal, lahir sebagaimana lahirnya bayi pada umumnya, orang tuaku juga bukan orang yang punya kedudukan, ayahku bekerja sebagaimana orang kebanyakan, juga ibuku, semua tak ada yang aneh, semuanya biasa saja, wajar, sewajar-wajarnya.
Waktu sekolah juga begitu, aku sekolah sebagaimana anak lain sekolah, tak ada yang aneh, badung, nakal, anak kecil juga rasanya umum di mana saja anak itu ya badung, tapi aku badungnya mungkin aku ini tak pernah mau belajar, tak seperti anak pada umumnya yang mau belajar, kalau aku sama sekali tak mau belajar, dan tak perduli dengan pelajaran sekolah, mau dapat nilai berapa juga tak perduli, dan tak pernah suka masuk kelas, lebih suka keluyuran, lebih suka tdk di kelas, entahlah sejak kecil begitu tak percaya dengan sekolah yang bisa membuat orang pintar, malah lebih suka belajar otodidak, alias tak lewat belajar di sekolah, jadi praktis setelah sekolah SD dan MI, aku memilih tak sekolah saja, dan akhirnya orang tua memonodokkanku di pondok pesantren.
Sebenarnya di waktu kecil, banyak pengalaman yang aku seniri tak mengerti itu pengalaman apa, yang sering aku rasakan, ada perempuan cantik yang sering di dekatku, biasanya aku melihat itu perempuan itu terlihat kalau aku sedang terbangun malam hari, istilah jawanya nglilir, ku lihat perempuan cantik di sampingku berdiri dan beberapa orang tua yang memakai surban berdiri di samping ranjangku, tersenyum, lalu pelan-pelan lenyap. ya aku memilih tak mengatakan pada siapa-siapa akan kejadian itu. ku anggap saja aku lagi mimpi.
Ada lagi pengalaman mimpi yang berulang ku alami, misal, aku sering mimpi terbang ke langit, menembus langit, di sana melayang-layang, anehnya hal itu seperti nyata saja, seperti ku alami beneran, dan anehnya itu sering ku alami, yang lebih aneh lagi saat itu kata ibuku aku ini sedang panas tinggi, dan mata terbeliak, semua orang kawatir, akan keadaanku, tapi aku di apa-apakan tetap seperti itu, mata terbeliak, hanya terlihat putihnya saja, dan terus seperti itu, mau di sembur pakai air, atau mau di apakan juga akan tetap begitu, tapi kemudian sadar sedniri, kalau perasaanku ya itu aku terbang ke langit, dan melayang di sana, tapi aku sendiri takut mengalami itu.
biasanya kalau sudah mata terbeliak itu juga aku di panggilkan entah kyai, dukun, untuk berusaha di sembuhkan, tapi ya tetap saja sia-sia, mereka kebanyakan hanya pasrah, sudah nanti kembali sendiri, karena semburannya tak mempan sama sekali.
yang aku merasa aneh lagi, aku paling sering mimpi, kalau matahari itu jatuh di pundakku, kadang di pangkuanku, itu sangat sering sekali, mimpi seperti itu ku alami, ya apa maksudnya aku juga tak tau.
masa kecilku sebenarnya aneh juga, atau ada anehnya, di desaku itu banyak sekali orang gila, desaku adalah desa pesantren, banyak pesatren berdir di desaku, karena itu banyak juga orang yang belajar ilmu, juga orang desaku banyak yang kedanan ilmu, belajar ilmu sampai jadinya gila, gak tau saat itu, kenapa jadi begitu, ternyata setelah tau itu karena sangking banyaknya jin yang masuk, karena orangnya sendiri, niatnya ajar ilmu sudah tak benar sehingga banyak jin masuk, dan karena banyak jin itu jadinya tubuh dan ruhaninya ndak kuat akhirnya jadi gila.
di desaku itu setiap RT ada orang gilanya, jadi banyak orang gila, itu sih tak aneh, yang aneh semua orang gila misal perempuan, waktu aku kecil itu datang ke rumahku dan merawatku, anehnya kalau merawatku itu orang gila jadi ndak gila, ini menurut cerita ibuku, jadinya aku di gendong-gendong di sayang-sayang sama orang gila, dan anehnya mereka menganggapku sebagai anaknya, dan merawatku dengan benar, jadi orang tuaku melihat itu jadi tak kawatir kalau aku di rawat orang gila, dan orang gila yang lelaki, seriap hari pada datang bergantian ke rumahku, mengisikan bak mandi, kalau di rumahku itu bak mandi di isi dari sumur dengan cara menimba, jadi orang gila itu mengisi bak mandi dan setelah bak mandinya penuh mereka akan pulang, begitu tiap hari, karena sudah menjadi kebiasaan ya aku dan keluargaku tak kawatir dengan tingkah laku orang gila itu.
Komentar
Posting Komentar